Solo (Espos) Aparat Polwil Surakarta menyebarkan 15.000 lembar poster buronan teroris nomor wahid, Noordin M Top, di wilayah Soloraya. Penyebaran dilakukan secara serentak oleh ratusan polisi, Rabu (22/7).
Noordin diduga menjadi otak pengeboman di sejumlah daerah, termasuk Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta, pekan lalu. Dalam poster tersebut dimuat beberapa versi foto Noordin. Salah satu gambar adalah foto Noordin terbaru yaitu tidak mengenakan kacamata dan tanpa jenggot serta kumis.
Dari poster yang disebar, ciri-ciri Noordin M Top adalah berbadan tegap, tinggi badan sekitar 170 cm, tidak menggunakan kacamata, warna kulit sawo matang, rambut pendek lurus, tanpa jenggot dan kumis serta logat Melayu begitu kental.
Berdasarkan pantauan Espos, ribuan poster tersebut ditempel di sejumlah pusat keramaian. Di daerah Kleco yang merupakan perbatasan Solo-Sukoharjo, warga langsung antusias melihat poster yang ditempel polisi.
Selain itu, poster bergambar Noordin M Top tersebut juga disebarkan di mal, pasar, pos polisi dan beberapa lokasi strategis lainnya di wilayah Soloraya. Di pusat perbelanjaan Carrefour, Kartasura, poster bergambar Noordin M Top dipasang di pintu masuk dan juga langsung menjadi pusat perhatian pengunjung.
”Di wilayah Soloraya ada 15.000 lembar poster yang disebar. Di tempatkan di lokasi strategis seperti mal, batas kota hingga pusat keramaian lainnya,” ungkap Pasubbag Samapta Polwil Surakarta AKP Awali mewakili Kapolwil Surakarta, Kombes Pol Taufik Ansorie kepada Espos di sela-sela operasi.
Ia menambahkan, dengan penyebaran poster tersebut, diharapkan masyarakat akan lebih mengenali wajah Noordin M Top yang diduga terlibat pengeboman di dua hotel di Kuningan, Jakarta. Selain dilakukan Polwil, penyebaran poster tersebut juga dilaksanakan aparat enam Polres yang ada di bawah Polwil Surakarta. ”Bagi masyarakat yang mengetahui atau melihat dapat langsung menghubungi aparat kepolisian terdekat,” ujar Awali.
Selain melalui poster yang disebarkan, pihaknya mengharapkan melalui pemberitaan di media dapat membantu polisi dalam menangkap buronan tersebut. ”Sampai saat ini kami belum menerima laporan dari masyarakat terkait ada orang yang diindikasikan memiliki ciri-ciri seperti yang ada pada poster-poster DPO yang sudah kami sebarkan sebelumnya,” kata Awali lagi.
Terpisah, Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo meminta masyarakat proaktif membantu polisi memerangi aksi terorisme.
Selama ini, menurut orang nomor satu di Polda Jateng itu, wilayah Jawa Tengah kerap disisir terkait aksi teror. Untuk mencegah aksi teror, masyarakat diminta mewaspadai orang tak dikenal yang tinggal di lingkungan sekitarnya. ”Masyarakat harus lebih aktif melaporkan keberadaan dan kegiatan orang tak dikenal,” kata Kapolda Jateng.
Alex menjelaskan, sejauh ini, kepolisian telah meningkatkan keamanan dengan patroli, penjagaan obyek vital, mal, dan lokasi publik lainnya. Hasil kegiatan ini akan lebih optimal jika masyarakat menginformasikan keanehan-keanehan di lingkungan sekitarnya. ”Agar hal-hal buruk dapat dicegah,” ungkapnya.
Hari ini, Kapolda dijadwalkan memberikan penyuluhan kepada para lurah dan Kades Soloraya. Acara digelar di sebuah hotel di Kota Solo. - Oleh : dni/dtc
SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI
Empat belas abad silam Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, di masa ketika masyarakat Arab berada dalam jurang kenistaan, kekacauan dan kejahiliyahan. Mereka adalah bangsa tak berperadaban, yang menyembah berhala buatan tangan mereka sendiri, yang
meyakini peperangan dan pertumpahan darah sebagai hal yang mulia, dan bahkan tega membunuh anak-anak mereka sendiri. Namun, melalui Islam mereka mendapatkan pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Tidak hanya bangsa Arab, namun seluruh bangsa yang memeluk Islam terbebaskan dari kegelapan zaman jahiliyah dan tercerahkan oleh hikmah ilahiyah Al Qur’an. Di antara hal penting yang disampaikan Al Qur’an untuk umat manusia adalah pola pikir untuk apa mereka diciptakan ke dunia ini dan bagaimana menyikapinya agar bisa selamat dunia sampai akherat ?
meyakini peperangan dan pertumpahan darah sebagai hal yang mulia, dan bahkan tega membunuh anak-anak mereka sendiri. Namun, melalui Islam mereka mendapatkan pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Tidak hanya bangsa Arab, namun seluruh bangsa yang memeluk Islam terbebaskan dari kegelapan zaman jahiliyah dan tercerahkan oleh hikmah ilahiyah Al Qur’an. Di antara hal penting yang disampaikan Al Qur’an untuk umat manusia adalah pola pikir untuk apa mereka diciptakan ke dunia ini dan bagaimana menyikapinya agar bisa selamat dunia sampai akherat ?
Kamis, Juli 23, 2009
Nur Said dan Ibrahim bukan pengebom
Edisi : Kamis, 23 Juli 2009 , Hal.1
Polri: Nur Said dan Ibrahim bukan pengebom
Jakarta (Espos) Mabes Polri memastikan pelaku pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton bukan Nur Said dan Ibrahim sebagaimana diberitakan media selama ini.
Kepastian itu diperoleh dari hasil tes DNA yang dilakukan Polri terhadap kepala pelaku pengeboman serta keluarga Nur Said dan Ibrahim. ”Ternyata hasilnya tidak identik dengan DNA para pelaku bom,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna dalam jumpa pers di Jakarta Media Center, Cafe Ginger Bellagio, Jakarta, Rabu (22/7).
Menurut Nanan, meski dipastikan bukan pelaku bom bunuh diri namun keberadaan Nur dan Ibrahim hingga kemarin masih misterius. Nanan mengatakan, polisi telah membuat sketsa wajah pelaku pengeboman. Dalam keterangan di sketsa itu, pelaku bom di Hotel Marriott berumur sekitar 17 tahun, berjenis kelamin laki-laki, rambut lurus pendek, tinggi sekitar 180 cm-190 cm, serta ukuran sepatu 42-43. Dari ciri-ciri itu, Nur Said jelas bukan pelakunya.
Sedangkan sketsa pelaku bom di Ritz Carlton, berjenis kelamin pria, berusia sekitar 30-40 tahun, rambut lurus pendek, berkulit sawo matang, dan bertinggi badan 165 cm. Dari ciri-ciri itu pelaku juga bukan Ibrahim. ”Baik Nur Said maupun Ibrahim tidak cocok dengan sketsa yang kami buat ini. Jadi, (pelaku) bukan mereka,” jelas dia.
Ditambahkan dia, polisi memastikan dua kepala yang masing-masing ditemukan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton adalah milik pelaku bom bunuh diri.”Dua kepala sudah bisa diduga sebagai pelaku pembom bunuh diri. Kami melakukan pengumpulan serpihan-serpihan,” kata Kadiv Humas.
SKETSA WAJAH— Kadiv Humas Mabes Polri Irjen (Pol) Nanan Soekarna menunjukkan foto hasil rekonstruksi dan sketsa wajah dua orang korban yang diduga sebagai tersangka pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton (foto kiri) dan Hotel JW Marriot (foto kanan) di Jakarta Media Centre, Jakarta, Rabu (22/7). Foto (Antara/Widodo S Jusuf)
Menurut Nanan, untuk bom di JW Marriot, polisi menemukan tubuh yang dipastikan merupakan pasangan kepala tersangka yang diperkirakan berumur 17 tahun tersebut. Tubuh tersebut berukuran cukup besar. Kemudian, lanjutnya, polisi mencoba menarik kemungkinan pelaku merupakan penyewa kamar 1808. Salah satu peralatan di kamar itu diketahui cocok dengan tubuh yang telah teridentifikasi.
Sedangkan untuk bom di Ritz Carlton, kepastian mengenai kepala pelaku didapat dari keterangan saksi. ”Untuk potongan di Ritz Carlton, berdasarkan keterangan saksi, dia adalah sebagai suicide bomber,” pungkasnya.
Nanan belum mau menjelaskan siapa orang lain yang dicurigai sebagai pelaku peledakan bom, setelah Nur Said dan Ibrahim bebas dari sangkaan. “Yang jelas, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku peledakan,” katanya.
Pernyataan Mabes Polri yang menegaskan Ibrahim bukan pelaku peledakan di Hotel Ritz Carlton Jakarta langsung disambut gembira Suci Hani, istri Ibrahim. ”Alhamdulillah, pelakunya bukan suami saya,” kata Suci Hani di Dusun Kliwon, Desa Sampora, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, Rabu.
Keluarga Nur Said di Temanggung dan Klaten juga bersyukur atas pernyataan Polri itu. Ibu mertua Nur Said, Siti Lestari, 57, saat ditemui wartawan di kediamannya, RT 18/RW VII Dukuh Tempel Desa Ngalas, Klaten Selatan, sejak awal meyakini menantunya tidak mungkin berbuat seperti yang dituduhkan.
Karenanya, mereka meminta Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) Habib Abdurrahman Assegaf berhati-hati menyampaikan pernyataan. Sebelumnya, Habib menyebut pelaku bom bunuh diri diduga Nur Said, alumnus Ponpes Al Mukmin Ngruki. ”Saya minta agar di kemudian hari Bapak Assegaf berhati-hati kalau keluarkan statemen,” kata Udi Mas’ud, adik kandung Nur Said. Dihubungi terpisah, Abdurrahman Assegaf mengaku menyebut nama Nur Said karena Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memberi inisial N. Dalam data teroris yang dimilikinya, N adalah Nur Said.
Sementara itu, sebuah rumah kusam berlantai dua yang sarat sarang laba-laba di Jl Cililitan Kecil, Jakarta Timur mendadak jadi sorotan publik. Pasalnya, rumah tersebut pernah ditinggali Ibrahim yang kini misterius. Ibrahim dan keluarganya tinggal di rumah itu sekitar 20 tahun. Mereka baru pindah setelah terjadi banjir pada 2007. Di ruang lantai dua yang diperkirakan sebagai musala terdapat tulisan Arab di dua dinding. Selain tulisan bahasa Arab itu, yang cukup mengejutkan ada kaus warna putih bertuliskan”Ritz Carlton” yang digantung di bawah kalimat bahasa Arab itu. Sedang di bawah kaus itu, terdapat gambar gedung bertingkat yang dilengkapi dengan coret-coret tak jelas menggunakan pensil di dekat gedung bertingkat itu. Di lantai bawah terdapat gambar api yang siap melalap gedung tersebut. - Oleh : dtc/haa
.....................
Mertua Nur Said tak tidur tiga hari tiga malam
Hasil tes DNA negatif, syukur dipanjatkan…
Lega mas, tidak lagi ada kekhawatiran,” begitu ucap Gesang Bekti Prayogo, 18, adik kandung Dwi Prastiwi, 32, istri Nursaid —pria yang beberapa hari ini menghiasi media massa karena disebut-sebut sebagai orang yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di dua hotel mewah Jakarta— kepada Espos, saat mengunjungi kediaman keluarga mertua Nur Said di RT 18/ RW VII Dukuh Tempel Desa Ngalas Kecamatan Klaten Selatan, Rabu (22/7).
Dalam beberapa hari terakhir, nama Desa Ngalas, tepatnya Dukuh Tempel, menjadi salah satu sorotan. Di tempat inilah, nama Nur Said sempat disebut-sebut, mengingat dia juga tercatat tinggal di wilayah Klaten. Nur Said, namanya menghiasi media cetak maupun elektronik beberapa hari lalu karena diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Tetapi, dugaan tersebut, sejak Rabu (22/7) tengah hari, sirna menyusul jumpa pers yang digelar Mabes Polri terkait negatifnya hasil tes DNA dari orangtua Nur Said, atas sosok tubuh yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri itu.
Sebelumnya, saat kabar dugaan tersebut berembus, keluarga mertua Nur Said mendapatkan imbas beban psikis yang teramat berat. Bahkan, pascamencuatnya informasi mengenai dugaan Nursaid sebagai pelaku, nama Tempel sempat menjadi cibiran masyarakat. Ada yang mengait-ngaitkan nama tersebut sebagai pencetak pelaku teror.
Ibu mertua Nur Said, Siti Lestari, 57, saat mendengar kabar menantunya diduga terkait dengan aksi bom tersebut, sempat kaget. Bahkan, sejak beberapa hari lalu, dirinya tak bisa tidur memikirkan soal hal tersebut. “Sudah tiga hari tiga malam saya tidak bisa tidur nyenyak,” ucap Siti saat menerima kehadiran para kuli tinta di serambi rumahnya.
Begitu dia beranjak ke dalam rumah, Siti pun tak bisa menahan lega maupun bulir-bulir air mata, saat melihat informasi di televisi. Di ruang tengah, tepat di sela-sela peralatan jahit maupun kursi tamu, Siti, berkali-kali berujar syukur kepada Allah SWT atas kabar yang menyejukkan hati keluarganya itu. Bahkan, dia melakukan sujud syukur atas informasi tersebut.
Senyum, kali ini tersungging di bibirnya, berkali-kali pascainformasi tersebut. Pun dia sunggingkan lagi, saat para kuli tinta berpamitan. - Oleh : Heriyono Adi Anggoro
Sumber : Solopos Edisi 23 Juli 2009
http://www.solopos.co.id
Polri: Nur Said dan Ibrahim bukan pengebom
Jakarta (Espos) Mabes Polri memastikan pelaku pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton bukan Nur Said dan Ibrahim sebagaimana diberitakan media selama ini.
Kepastian itu diperoleh dari hasil tes DNA yang dilakukan Polri terhadap kepala pelaku pengeboman serta keluarga Nur Said dan Ibrahim. ”Ternyata hasilnya tidak identik dengan DNA para pelaku bom,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna dalam jumpa pers di Jakarta Media Center, Cafe Ginger Bellagio, Jakarta, Rabu (22/7).
Menurut Nanan, meski dipastikan bukan pelaku bom bunuh diri namun keberadaan Nur dan Ibrahim hingga kemarin masih misterius. Nanan mengatakan, polisi telah membuat sketsa wajah pelaku pengeboman. Dalam keterangan di sketsa itu, pelaku bom di Hotel Marriott berumur sekitar 17 tahun, berjenis kelamin laki-laki, rambut lurus pendek, tinggi sekitar 180 cm-190 cm, serta ukuran sepatu 42-43. Dari ciri-ciri itu, Nur Said jelas bukan pelakunya.
Sedangkan sketsa pelaku bom di Ritz Carlton, berjenis kelamin pria, berusia sekitar 30-40 tahun, rambut lurus pendek, berkulit sawo matang, dan bertinggi badan 165 cm. Dari ciri-ciri itu pelaku juga bukan Ibrahim. ”Baik Nur Said maupun Ibrahim tidak cocok dengan sketsa yang kami buat ini. Jadi, (pelaku) bukan mereka,” jelas dia.
Ditambahkan dia, polisi memastikan dua kepala yang masing-masing ditemukan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton adalah milik pelaku bom bunuh diri.”Dua kepala sudah bisa diduga sebagai pelaku pembom bunuh diri. Kami melakukan pengumpulan serpihan-serpihan,” kata Kadiv Humas.
Menurut Nanan, untuk bom di JW Marriot, polisi menemukan tubuh yang dipastikan merupakan pasangan kepala tersangka yang diperkirakan berumur 17 tahun tersebut. Tubuh tersebut berukuran cukup besar. Kemudian, lanjutnya, polisi mencoba menarik kemungkinan pelaku merupakan penyewa kamar 1808. Salah satu peralatan di kamar itu diketahui cocok dengan tubuh yang telah teridentifikasi.
Sedangkan untuk bom di Ritz Carlton, kepastian mengenai kepala pelaku didapat dari keterangan saksi. ”Untuk potongan di Ritz Carlton, berdasarkan keterangan saksi, dia adalah sebagai suicide bomber,” pungkasnya.
Nanan belum mau menjelaskan siapa orang lain yang dicurigai sebagai pelaku peledakan bom, setelah Nur Said dan Ibrahim bebas dari sangkaan. “Yang jelas, polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku peledakan,” katanya.
Pernyataan Mabes Polri yang menegaskan Ibrahim bukan pelaku peledakan di Hotel Ritz Carlton Jakarta langsung disambut gembira Suci Hani, istri Ibrahim. ”Alhamdulillah, pelakunya bukan suami saya,” kata Suci Hani di Dusun Kliwon, Desa Sampora, Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, Rabu.
Keluarga Nur Said di Temanggung dan Klaten juga bersyukur atas pernyataan Polri itu. Ibu mertua Nur Said, Siti Lestari, 57, saat ditemui wartawan di kediamannya, RT 18/RW VII Dukuh Tempel Desa Ngalas, Klaten Selatan, sejak awal meyakini menantunya tidak mungkin berbuat seperti yang dituduhkan.
Karenanya, mereka meminta Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) Habib Abdurrahman Assegaf berhati-hati menyampaikan pernyataan. Sebelumnya, Habib menyebut pelaku bom bunuh diri diduga Nur Said, alumnus Ponpes Al Mukmin Ngruki. ”Saya minta agar di kemudian hari Bapak Assegaf berhati-hati kalau keluarkan statemen,” kata Udi Mas’ud, adik kandung Nur Said. Dihubungi terpisah, Abdurrahman Assegaf mengaku menyebut nama Nur Said karena Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memberi inisial N. Dalam data teroris yang dimilikinya, N adalah Nur Said.
Sementara itu, sebuah rumah kusam berlantai dua yang sarat sarang laba-laba di Jl Cililitan Kecil, Jakarta Timur mendadak jadi sorotan publik. Pasalnya, rumah tersebut pernah ditinggali Ibrahim yang kini misterius. Ibrahim dan keluarganya tinggal di rumah itu sekitar 20 tahun. Mereka baru pindah setelah terjadi banjir pada 2007. Di ruang lantai dua yang diperkirakan sebagai musala terdapat tulisan Arab di dua dinding. Selain tulisan bahasa Arab itu, yang cukup mengejutkan ada kaus warna putih bertuliskan”Ritz Carlton” yang digantung di bawah kalimat bahasa Arab itu. Sedang di bawah kaus itu, terdapat gambar gedung bertingkat yang dilengkapi dengan coret-coret tak jelas menggunakan pensil di dekat gedung bertingkat itu. Di lantai bawah terdapat gambar api yang siap melalap gedung tersebut. - Oleh : dtc/haa
.....................
Mertua Nur Said tak tidur tiga hari tiga malam
Hasil tes DNA negatif, syukur dipanjatkan…
Lega mas, tidak lagi ada kekhawatiran,” begitu ucap Gesang Bekti Prayogo, 18, adik kandung Dwi Prastiwi, 32, istri Nursaid —pria yang beberapa hari ini menghiasi media massa karena disebut-sebut sebagai orang yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di dua hotel mewah Jakarta— kepada Espos, saat mengunjungi kediaman keluarga mertua Nur Said di RT 18/ RW VII Dukuh Tempel Desa Ngalas Kecamatan Klaten Selatan, Rabu (22/7).
Dalam beberapa hari terakhir, nama Desa Ngalas, tepatnya Dukuh Tempel, menjadi salah satu sorotan. Di tempat inilah, nama Nur Said sempat disebut-sebut, mengingat dia juga tercatat tinggal di wilayah Klaten. Nur Said, namanya menghiasi media cetak maupun elektronik beberapa hari lalu karena diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Tetapi, dugaan tersebut, sejak Rabu (22/7) tengah hari, sirna menyusul jumpa pers yang digelar Mabes Polri terkait negatifnya hasil tes DNA dari orangtua Nur Said, atas sosok tubuh yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri itu.
Sebelumnya, saat kabar dugaan tersebut berembus, keluarga mertua Nur Said mendapatkan imbas beban psikis yang teramat berat. Bahkan, pascamencuatnya informasi mengenai dugaan Nursaid sebagai pelaku, nama Tempel sempat menjadi cibiran masyarakat. Ada yang mengait-ngaitkan nama tersebut sebagai pencetak pelaku teror.
Ibu mertua Nur Said, Siti Lestari, 57, saat mendengar kabar menantunya diduga terkait dengan aksi bom tersebut, sempat kaget. Bahkan, sejak beberapa hari lalu, dirinya tak bisa tidur memikirkan soal hal tersebut. “Sudah tiga hari tiga malam saya tidak bisa tidur nyenyak,” ucap Siti saat menerima kehadiran para kuli tinta di serambi rumahnya.
Begitu dia beranjak ke dalam rumah, Siti pun tak bisa menahan lega maupun bulir-bulir air mata, saat melihat informasi di televisi. Di ruang tengah, tepat di sela-sela peralatan jahit maupun kursi tamu, Siti, berkali-kali berujar syukur kepada Allah SWT atas kabar yang menyejukkan hati keluarganya itu. Bahkan, dia melakukan sujud syukur atas informasi tersebut.
Senyum, kali ini tersungging di bibirnya, berkali-kali pascainformasi tersebut. Pun dia sunggingkan lagi, saat para kuli tinta berpamitan. - Oleh : Heriyono Adi Anggoro
Sumber : Solopos Edisi 23 Juli 2009
http://www.solopos.co.id
Keluarga Noordin ditangkapi
Cilacap (Espos) Polisi menangkap keluarga gembong teroris Noordin M Top di Cilacap, Rabu (22/7). Mereka adalah isteri Noordin, Arina dan ibu mertuanya, Dwi Astuti.
Bersama dua perempuan itu, dibawa juga anak dari hasil pernikahan Arina dengan Noordin. Namun, dalam penjelasannya kepada Tim Pengacara Muslim (TPM), Arina membantah dirinya istri Noordin, sebab nama suaminya adalah Abdul Halim.
Penangkapan dilakukan pukul 10.30 WIB. Sekitar 20 polisi dikerahkan untuk melakukan penangkapan di Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap itu. ”Ya tadi pukul 10.30 WIB. Ada petugas kepolisian yang menjemput,” kata Kepala Kesbanglinmas Cilacap, Yayan Rustiawan.
Penangkapan ini menyusul penangkapan Saefudin Zuhri di Nusawungu, Cilacap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada 21 Juni lalu, dan ditemukannya bom dan alat merakit bom pada 14 Juli lalu di belakang rumah Bahrudin Latif alias Baridin, yang tak lain adalah ayah Arina.
Densus masih memburu Baridin. Arina ditangkap di kediaman kakak Baridin, sekitar 200 meter dari rumah Baridin. Penangkapan disaksikan aparat desa dan Muspika. Di rumah Baridin inilah diduga Noordin selama ini tinggal dan menikah dengan Arina. Pernikahan antara Arina dan Noordin dilakukan sekitar dua tahun lalu. ”Mereka menikah siri. Yang menikahkan adalah Pak Baridin,” kata Kepala Desa Pasuruhan, Watim Suseno, sebagaimana dikutip dari tempointeraktif.com.
Watim mengatakan, menantu Baridin pernah dikenalkan sekali kepada warga. Hanya saja, kata dia, pada saat perkenalan Baridin tidak menjelaskan siapa menantunya tersebut. ”Waktu itu, Pak Baridin hanya menunjukkan kumpulan orang asing yang katanya dari Sulawesi,” imbuihnya.
Dari pernikahan itu, Arina mempunyai dua orang anak yang bernama Aula dan Daud. Baridin merupakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muaddib. Sedangkan Arina merupakan guru pengajar Bahasa Arab di pondok tersebut. Oleh para tetangganya, Baridin terkenal tertutup. Ia jarang ikut kondangan jika ada tetangganya yang punya hajat.
Pada bagian lain, anggota TPM Ahmad Kholik menyatakan, Arina sempat mendatangi TPM menyusul penggeledahan rumah Baridin beberapa waktu lalu. ”Dia kaget, syok waktu pulang ke rumah ternyata rumahnya sudah didatangi polisi dan barang-barangnya diambil,” kata Kholik.
Kepada TPM, Arina mengaku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun dengan bantuan beberapa kerabatnya, Arina akhirnya menemui TPM di Jakarta. Sementara itu anggota TPM lainnya, Ahmad Michdan mengatakan, Arina dengan tegas mengatakan tidak mengetahui tentang Noordin M Top. Selama ini, suami dikenalnya dengan nama Abdul Halim. Menurut Michdan, suami Arina sering pergi berbulan-bulan. ”Dia nggak tahu Noordin M Top, makanya dia kaget pas dibilang kalau suaminya Noordin M Top,” kata Michdan. TPM hingga kini belum tahu di mana Arina berada.
Sementara itu perburuan sel Noordin terus dilakukan. Densus 88 menangkap jaringan teroris yang terkait dengan Dr Azahari, yakni Hendrawan, 50, warga Dusun Santrean RT 04/ RW I, Desa Sumberejo, Kecamatan Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Ketua RT 04/RW I Desa Sumberejo, Sunardi menyatakan, Hendrawan ditangkap di Solo. Sunardi mengetahui penangkapan itu karena saudara iparnya, Hendra, menjadi sopir yang disewa Hendrawan untuk mengantarnya ke Solo.
Sementara Kapolwil Malang Kombes Pol Rusli Nasution menyatakan tidak tahu adanya penangkapan terhadap Hendrawan. Tingkah laku Hendrawan, pria yang ditangkap Densus 88, selama di luar kebiasaan warga setempat. Sehari-hari dia menggunakan bahasa Inggris. Lampu rumahnya tidak dinyalakan bila malam dan kaca jendela rumah ditutup dengan kertas. Dari Jakarta dilaporkan, Mabes Polri mengakui ada penangkapan Arina di Cilacap. ”Anggota kami memeriksa dan menahan beberapa orang di Jateng,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna.
Jaringan Noordin selama ini memang diduga masih aktif. Meskipun Dr Azahari, perakit bom handal kelompok Noordin sudah meregang nyawa. Tapi itu bukan berarti jaringan kelompok ini kehilangan perakit bom handal. Mereka masih memiliki sejumlah nama yang dikenal mahir merakit bahan peledak. Demikian diungkapkan pengamat terorisme, Sidney Jones. Saat ini, diketahui dua nama yang telah teridentifikasi polisi. Mereka yakni Reno alias Tedi dan Taufik Bulaga alias Upik Lawanga.
Penangkapan jaringan teroris di Cilacap
- 21 Juni - Densus 88 Antiteror menangkap Saefudin Zuhri di Nusawungu, Cilacap.
- 14 Juli - Densus 88 Antiteror menemukan dua bom siap ledak, bahan dan alat pembuat bom di belakang rumah Bahrudin Latif alias Baridin, warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap. Densus masih memburu Baridin.
- Pascapenggerebekan, sang anak, Arina, menghubungi Tim Pembela Pengacara Muslim (TPM).
- 22 Juli - Anak dan istri Baridin, Arina dan Dwi Astuti, serta anaknya dibawa 20 petugas kepolisian sekitar pukul 10.30 WIB disaksikan aparat desa dan Muspika. Hingga kini TPM tak mengetahui keberadaan Arina.
Arina diduga istri Noordin M Top?
- 2007, Baridin menikahkan Arina dengan seseorang yang diakui bernama Abdul Halim. Baridin sempat mengundang tetangga terkait pernikahan, namun tak menunjukkan mempelai laki-laki, dan hanya menunjukkan sekelompok orang asing yang disebut berasal dari Sulawesi.
- Pernikahan tak tercatat di arsip desa. Sang mempelai laki-laki tinggal sejak 2005 dan tak memiliki KTP Cilacap. Pernikahan menghasilkan dua anak, Aula dan Daud.
- Baridin merupakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Muaddib dan Arina adalah guru bahasa Arab di Ponpes setempat. Baridin dikenal tertutup. - Oleh : dtc/Ant
Bersama dua perempuan itu, dibawa juga anak dari hasil pernikahan Arina dengan Noordin. Namun, dalam penjelasannya kepada Tim Pengacara Muslim (TPM), Arina membantah dirinya istri Noordin, sebab nama suaminya adalah Abdul Halim.
Penangkapan dilakukan pukul 10.30 WIB. Sekitar 20 polisi dikerahkan untuk melakukan penangkapan di Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap itu. ”Ya tadi pukul 10.30 WIB. Ada petugas kepolisian yang menjemput,” kata Kepala Kesbanglinmas Cilacap, Yayan Rustiawan.
Penangkapan ini menyusul penangkapan Saefudin Zuhri di Nusawungu, Cilacap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror pada 21 Juni lalu, dan ditemukannya bom dan alat merakit bom pada 14 Juli lalu di belakang rumah Bahrudin Latif alias Baridin, yang tak lain adalah ayah Arina.
Densus masih memburu Baridin. Arina ditangkap di kediaman kakak Baridin, sekitar 200 meter dari rumah Baridin. Penangkapan disaksikan aparat desa dan Muspika. Di rumah Baridin inilah diduga Noordin selama ini tinggal dan menikah dengan Arina. Pernikahan antara Arina dan Noordin dilakukan sekitar dua tahun lalu. ”Mereka menikah siri. Yang menikahkan adalah Pak Baridin,” kata Kepala Desa Pasuruhan, Watim Suseno, sebagaimana dikutip dari tempointeraktif.com.
Watim mengatakan, menantu Baridin pernah dikenalkan sekali kepada warga. Hanya saja, kata dia, pada saat perkenalan Baridin tidak menjelaskan siapa menantunya tersebut. ”Waktu itu, Pak Baridin hanya menunjukkan kumpulan orang asing yang katanya dari Sulawesi,” imbuihnya.
Dari pernikahan itu, Arina mempunyai dua orang anak yang bernama Aula dan Daud. Baridin merupakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muaddib. Sedangkan Arina merupakan guru pengajar Bahasa Arab di pondok tersebut. Oleh para tetangganya, Baridin terkenal tertutup. Ia jarang ikut kondangan jika ada tetangganya yang punya hajat.
Pada bagian lain, anggota TPM Ahmad Kholik menyatakan, Arina sempat mendatangi TPM menyusul penggeledahan rumah Baridin beberapa waktu lalu. ”Dia kaget, syok waktu pulang ke rumah ternyata rumahnya sudah didatangi polisi dan barang-barangnya diambil,” kata Kholik.
Kepada TPM, Arina mengaku sangat takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun dengan bantuan beberapa kerabatnya, Arina akhirnya menemui TPM di Jakarta. Sementara itu anggota TPM lainnya, Ahmad Michdan mengatakan, Arina dengan tegas mengatakan tidak mengetahui tentang Noordin M Top. Selama ini, suami dikenalnya dengan nama Abdul Halim. Menurut Michdan, suami Arina sering pergi berbulan-bulan. ”Dia nggak tahu Noordin M Top, makanya dia kaget pas dibilang kalau suaminya Noordin M Top,” kata Michdan. TPM hingga kini belum tahu di mana Arina berada.
Sementara itu perburuan sel Noordin terus dilakukan. Densus 88 menangkap jaringan teroris yang terkait dengan Dr Azahari, yakni Hendrawan, 50, warga Dusun Santrean RT 04/ RW I, Desa Sumberejo, Kecamatan Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Ketua RT 04/RW I Desa Sumberejo, Sunardi menyatakan, Hendrawan ditangkap di Solo. Sunardi mengetahui penangkapan itu karena saudara iparnya, Hendra, menjadi sopir yang disewa Hendrawan untuk mengantarnya ke Solo.
Sementara Kapolwil Malang Kombes Pol Rusli Nasution menyatakan tidak tahu adanya penangkapan terhadap Hendrawan. Tingkah laku Hendrawan, pria yang ditangkap Densus 88, selama di luar kebiasaan warga setempat. Sehari-hari dia menggunakan bahasa Inggris. Lampu rumahnya tidak dinyalakan bila malam dan kaca jendela rumah ditutup dengan kertas. Dari Jakarta dilaporkan, Mabes Polri mengakui ada penangkapan Arina di Cilacap. ”Anggota kami memeriksa dan menahan beberapa orang di Jateng,” kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna.
Jaringan Noordin selama ini memang diduga masih aktif. Meskipun Dr Azahari, perakit bom handal kelompok Noordin sudah meregang nyawa. Tapi itu bukan berarti jaringan kelompok ini kehilangan perakit bom handal. Mereka masih memiliki sejumlah nama yang dikenal mahir merakit bahan peledak. Demikian diungkapkan pengamat terorisme, Sidney Jones. Saat ini, diketahui dua nama yang telah teridentifikasi polisi. Mereka yakni Reno alias Tedi dan Taufik Bulaga alias Upik Lawanga.
Penangkapan jaringan teroris di Cilacap
- 21 Juni - Densus 88 Antiteror menangkap Saefudin Zuhri di Nusawungu, Cilacap.
- 14 Juli - Densus 88 Antiteror menemukan dua bom siap ledak, bahan dan alat pembuat bom di belakang rumah Bahrudin Latif alias Baridin, warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap. Densus masih memburu Baridin.
- Pascapenggerebekan, sang anak, Arina, menghubungi Tim Pembela Pengacara Muslim (TPM).
- 22 Juli - Anak dan istri Baridin, Arina dan Dwi Astuti, serta anaknya dibawa 20 petugas kepolisian sekitar pukul 10.30 WIB disaksikan aparat desa dan Muspika. Hingga kini TPM tak mengetahui keberadaan Arina.
Arina diduga istri Noordin M Top?
- 2007, Baridin menikahkan Arina dengan seseorang yang diakui bernama Abdul Halim. Baridin sempat mengundang tetangga terkait pernikahan, namun tak menunjukkan mempelai laki-laki, dan hanya menunjukkan sekelompok orang asing yang disebut berasal dari Sulawesi.
- Pernikahan tak tercatat di arsip desa. Sang mempelai laki-laki tinggal sejak 2005 dan tak memiliki KTP Cilacap. Pernikahan menghasilkan dua anak, Aula dan Daud.
- Baridin merupakan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Muaddib dan Arina adalah guru bahasa Arab di Ponpes setempat. Baridin dikenal tertutup. - Oleh : dtc/Ant
Langganan:
Postingan (Atom)

