3 (Tiga) Kata Kunci Dakwah
Kita sebagai umat islam diwajibkan untuk amar ma'ruf nahi mungkar, sekecil apapun. Dengan tetap mentaati adab-adab berdakwah sesuai ajaran Al Qur an dan sabda Rasulullah SAW.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.3:104.)
"Sampaikanlah apa yang kamu dapat dariku walau hanya satu ayat" (Sabda Rasullullah SAW).
"Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" [An-Nahl : 125]
Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri (Al Ankabuut:46)
Ketika Allah SWT mengutus Musa dan Harun kepada Fir'aun maka Allah berfirman.
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" [Thaha : 44]
Berikut kami paparkan kata-kata kunci dakwah yang insya Allah, semoga membantu kita sukses dalam berdakwah. Semoga Allah selalu meridlo-i kita. Amien
1. Tahu medan
Seorang pendakwah harus tahu medan atau keadaan masyarakat yang akan/sedang didakwahi. Pelajari struktur masyarakatnya, budayanya, kebiasaan, tradisi, hal-hal yang disukai/tidak disukai. Tingkat pendidikan, status, dlsb. Ini akan sangat berguna untuk kesuksesan dakwah.
Dengan menguasai medan dakwah, kita bisa memakai metode yang tepat agar dakwah sampai dan diterima masyarakat. Jangan kita berdakwah model pendekar satu jurus. Apapun masyarakat/audience-nya, dakwahnya selalu memakai jurus yang sama. Ceramah dengan gaya yang sama, contoh-contoh yang tidak dipahami audience. Dakwah seperti ini tidak akan sukses, bahkan bisa-bisa dimusuhi masyarakat.
Point ini juga termasuk analisis diri-sendiri. Sejauh mana kemampuan kita. Analisis SWOT perlu diterapkan sebelum terjun dalam bidang dakwah. Kita harus tahu benar tentang kekuatan kita, kelemahan, kesempatan saat-saat dakwah, dan ancaman/rintangan yg mungkin akan menimpa. Dengan analisis diri dan analisis medan yang akan diterjuni, kita bisa menduga apakah mampu berdakwah di wilayah/medan/masyarakat tertentu. Jika tidak mampu, jangan paksakan diri. Tinggalkan. Biarkan organisasi dakwah lain (yang lebih kuat) menggarapnya. Atau ajak/gabung dengan organisasi lain untuk kerjasama.
2. Menyesuaikan diri
Seorang yang ingin sukses dalam dakwahnya haruslah menyesuaikan diri dengan medan-nya. Menyesuaikan diri bukan berarti ikut-ikutan kepada kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan ajaran islam. Tetapi dakwah kita menyesuaikan kepada kondisi masyarakat dengan menggunakan metode atau cara yang tepat agar dakwah islamiyah kita diterima masyarakat.
Yang kita dakwahkan adalah ajaran islam, ajaran Rasul SAW. Sedangkan metode berdakwah kita diberi kebebasan, asal tidak bertentangan dengan syariat islam tentu saja. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin dakwah islamiyah di berbagai tempat mempunyai corak yang berbeda-beda. Tetapi hakekat-nya adalah sama, yaitu ajaran islam diterima di masyarakat. Sebagai contoh, dakwah di Eropa tentu saja lain dengan di Thailand. Dakwah di Papua lain dengan Jawa. Dakwah di kota pun lain coraknya dengan di desa.
Bukan tidak mungkin hasil dakwah ini akan membentuk kultur dan budaya masyarakat berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik asal masyarakatnya. Sekali lagi, hakekat dakwah adalah bagaimana agar ajaran islam diresapi dan diamalkan masyarakat sasaran kita. Itulah hakekat dakwah islamiyah. Kita tidak perlu mengolok-olok/menghujat masyarakat islam lain yg mungkin tidak kita pahami adat istiadatnya. Mungkin saja mereka lebih islami dari yang kita duga.
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) ..... ( QS. 49:11.)
3. Kuat/Mandiri
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 61:4)
Kuat dalam berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung ke-efektif-an dakwah. Dalam ilmu manajemen di kenal analisis SWOT, yang S=Strength (kuat). Seorang juru dakwah akan sukses dalam dakwahnya jika didukung oleh kekuatan-kekuatan di berbagai aspek sebagai berikut:
a. Ekonomi. Kemandirian di aspek ini sangat-sangat penting. Ini merupakan kunci pokok kesuksesan dakwah. Kata mandiri lebih cenderung secara ekonomi, di samping tentu saja tidak mengabaikan mandiri di bidang-bidang yang lain. Dengan mandiri kita tidak tergantung secara finansial kepada orang lain/organisasi luar, sehingga dakwah bisa terus-menerus secara kontinyu. Bukannya kalau ada dana, kita dakwah, kalau tidak dakwahnya juga macet. Kalau model seperti ini, kesuksesannya diragukan. Kemandirian secara ekonomi ini penting untuk menjamin kelangsungan dakwah.
b. Ilmu. Jelas seorang juru dakwah harus mempunyai ilmu yang mumpuni, kuat. Ilmu agama adalah syarat utama. Ilmu-ilmu yang lain sangat diperlukan untuk mendukung untuk kesuksesan dakwah, sesuai dengan kondisi dan situasi medan dakwah.
c. Sosial. Seorang tokoh panutan akan lebih diterima pendapatnya oleh masyarakat. Tokoh yang disegani dan diakui oleh masyarakat akan menjadikan lebih dihormati dan dijadikan sebagai acuan. Tingkah lakunya akan ditiru orang banyak. Jika tokoh ini berdakwahkan islam, maka kesuksesan dakwah sudah di tangan. Insya Allah.
d. Kedudukan. Seorang atasan akan lebih mudah berdakwah kepada bawahannya, dari pada bawahan yang mendakwahi atasannya.
e. Daya Tahan. Ada kalanya seorang juru dakwah diserang oleh musuh-musuh islam yang tidak menyukai kita. Jika kita bisa menahan serangan, bahkan memukul balik, niscaya musuh-musuh dakwah tidak akan berani mengganggu lagi. Jangan dibayangkan ini hanya serangan berupa fisik saja. Banyak serangan/gangguan yang bisa terjadi. Pembunuhan karakter, fitnah, dll, adalah bentuk gangguan di masa modern ini. Mass media (komunikasi) merupakan senjata mereka, dan tentu saja senjata kita juga untuk menangkisnya.
Kenapa beratus-ratus tahun dakwah majelis taklim dan pondok-pondok pesantren tidak mati ditekan penjajah Belanda. Itu karena mandiri. Secara ekonomi pondok-pondok pesantren kita tidak tergantung Belanda, secara ilmu beliau para ulama kita mumpuni dan tidak terlalu tergantung dengan ulama-ulama Timur Tengah sehingga ketika hubungan itu diputus/diganggu, ulama kita tetap eksis. Demikian juga dengan pertahanan yang kuat, ulama-ulama kita mampu mempertahankan diri dari serangan Belanda, dll.
Sayang, maaf kalau salah, di zaman kemerdekaan (orde baru) dengan banyaknya bantuan pemerintah/partai politik, kemandirian ini luntur. Banyak pondok pesantren yang menadahkan tangan mengharap donasi. Semoga hal yang demikian tidak berlarut-larut. Kita harus mandiri.
Penutup
Demikianlah tiga kata kunci yang kami anggap penting untuk kesuksesan berdakwah. Di samping itu, kerja sama antar pendakwah (dan/atau organisasi dakwah) seharusnya diper-erat. Kita sesama muslim adalah bersaudara, bukan musuh. Janganlah kita jegal saudara kita, mencela, bahkan men-sesatkan.
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.(QS. 49:10.)
"Janganlah saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yang lain, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya.Taqwa itu berada di sini, beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya dan kehormatannya". (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Metode dakwah Wali Songo kami kira merupakan contoh dakwah yang paling efektif sepanjang zaman ..insya Allah. Kerja sama-nya, metodenya, dll, sungguh sangat tepat diterapkan pada masyarakat (Jawa dan sekitarnya) pada masa itu, sehingga alhamdulillah sekarang kita dikarunia-i cahaya iman dan islam. Sungguh besar amal mereka,
Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun".(HR. Muslim)
Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk-Nya kepada kita. amien.
Wallahu a'lam.
Agustus 2006.
Sumber : http://www.geocities.com/risanuri/agama/Tiga_Kata_Kunci_Dakwah.html
SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI
Empat belas abad silam Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, di masa ketika masyarakat Arab berada dalam jurang kenistaan, kekacauan dan kejahiliyahan. Mereka adalah bangsa tak berperadaban, yang menyembah berhala buatan tangan mereka sendiri, yang
meyakini peperangan dan pertumpahan darah sebagai hal yang mulia, dan bahkan tega membunuh anak-anak mereka sendiri. Namun, melalui Islam mereka mendapatkan pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Tidak hanya bangsa Arab, namun seluruh bangsa yang memeluk Islam terbebaskan dari kegelapan zaman jahiliyah dan tercerahkan oleh hikmah ilahiyah Al Qur’an. Di antara hal penting yang disampaikan Al Qur’an untuk umat manusia adalah pola pikir untuk apa mereka diciptakan ke dunia ini dan bagaimana menyikapinya agar bisa selamat dunia sampai akherat ?
meyakini peperangan dan pertumpahan darah sebagai hal yang mulia, dan bahkan tega membunuh anak-anak mereka sendiri. Namun, melalui Islam mereka mendapatkan pengetahuan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Tidak hanya bangsa Arab, namun seluruh bangsa yang memeluk Islam terbebaskan dari kegelapan zaman jahiliyah dan tercerahkan oleh hikmah ilahiyah Al Qur’an. Di antara hal penting yang disampaikan Al Qur’an untuk umat manusia adalah pola pikir untuk apa mereka diciptakan ke dunia ini dan bagaimana menyikapinya agar bisa selamat dunia sampai akherat ?
Rabu, Agustus 19, 2009
Kamis, Agustus 13, 2009
Abu Bakar Ba'asyir Pimpin Doa di Pemakaman Air dan Eko
Muchus Budi R. - detikNews
Detik News 8 Ags 2009
Ustadz Abu Bakar Pimpin Do'a
Solo - Jenazah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, dua tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Jatiasih, Bekasi, dimakamkan berdampingan di pemakaman muslim Kaliyoso, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Pembacaan doa dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Solo.

Keberangkatan jenazah Air dan Eko ke tempat peristirahatannya yang terakhir diantar oleh ratusan orang. Iring-iringan kendaraan pengantar jenazah terdiri dari 2 mobil ambulans, 1 mobil pribadi dan sekitar 200-an sepeda motor.
Jenazah Air dan Eko dimasukkan ke dalam liang lahat sekitar pukul 10.15 WIB, Kamis (13/8/2009). Prosesi pemakaman sempat terkendala karena tidak tersedia peralatan, seperti cangkul, untuk menimbun liang lahat dengan tanah. Namun setelah para pengantar mendapatkan pinjaman cangkul dari warga, proses pemakaman berjalan lancar.
Tidak ada nisan di atas makam Eko dan Air yang bertuliskan nama masing-masing. Sebagai pertanda, di atas masing-masing makam para pengantar hanya meletakkan gundukan batu.
Sebelumnya saat datang melawat, Ba'asyir mengatakan dirinya tetap mendoakan Eko dan Air mendapat pahala dan ampunan dari Allah SWT. Meskipun, sambung Ba'asyir, ijtihad yang dilakukan Eko dan Air berbeda dengan dirinya.
"Semoga keduanya diberikan pahala. Dan mereka tetap pejuang Islam karena memperjuangkan syariat Islam," kata Ba'asyir. (mbr/djo
AAir dan Eko Dimakamkan di Pemakaman Khusus Orang Salat
Air dan Eko dimakamkan di sebuah pemakaman khusus di pemakaman muslim di Kaliyoso, Jetis Karangpung, Kalijambe, Sragen. Makam tersebut terletak di sebuah tanah wakafseorang pengusaha di Solo yang diperuntukkan untuk mengubur jenazah orang-orang yang rajin sholat di masa hidupnya.

Tanah tersebut wakaf dari H Soeparno Zainal Abidin, seorang pengusaha alat-alat perlengkapan ibadah yang cukup sukses di Solo. Soeparno adalah sahabat dekat Abu Bakar Ba'asyir. Salah seorang anak kandung Soeparno, Ali Usman, pernah memimpin ikatan alumni santri Ngruki.
Tanah dengan panjang sekitar 40 meter dan lebarnya 10 meter itu diwakafkan sejak tahun 1999. Di pintu masuk makam terdapat gapura tinggi tertuliskan 'Khusus. Kuburan Orang Sholat'. Di badan gapura terdapat prasasti yang ditandatangani wakif (pemberi wakaf) serta ikrar wakaf dam peruntukannya.
Di atas tanah tersebut juga di tanam pohon jati super yang ditanam rapi. Dengan demikian makam digali di sela-sela pohon jati yang masih ukuran kecil tersebut.
Baru sekitar 35 badan yang dikuburkan di tempat tersebut atau belum lebih dari sepertiga areal pemakaman itu yang terisi. Makam Air dan Eko terdapat di lokasi paling bawah.
Detik News 8 Ags 2009
Ustadz Abu Bakar Pimpin Do'a
Solo - Jenazah Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, dua tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan di Jatiasih, Bekasi, dimakamkan berdampingan di pemakaman muslim Kaliyoso, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah. Pembacaan doa dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Solo.

Keberangkatan jenazah Air dan Eko ke tempat peristirahatannya yang terakhir diantar oleh ratusan orang. Iring-iringan kendaraan pengantar jenazah terdiri dari 2 mobil ambulans, 1 mobil pribadi dan sekitar 200-an sepeda motor.
Jenazah Air dan Eko dimasukkan ke dalam liang lahat sekitar pukul 10.15 WIB, Kamis (13/8/2009). Prosesi pemakaman sempat terkendala karena tidak tersedia peralatan, seperti cangkul, untuk menimbun liang lahat dengan tanah. Namun setelah para pengantar mendapatkan pinjaman cangkul dari warga, proses pemakaman berjalan lancar.
Tidak ada nisan di atas makam Eko dan Air yang bertuliskan nama masing-masing. Sebagai pertanda, di atas masing-masing makam para pengantar hanya meletakkan gundukan batu.
Sebelumnya saat datang melawat, Ba'asyir mengatakan dirinya tetap mendoakan Eko dan Air mendapat pahala dan ampunan dari Allah SWT. Meskipun, sambung Ba'asyir, ijtihad yang dilakukan Eko dan Air berbeda dengan dirinya.
"Semoga keduanya diberikan pahala. Dan mereka tetap pejuang Islam karena memperjuangkan syariat Islam," kata Ba'asyir. (mbr/djo
AAir dan Eko Dimakamkan di Pemakaman Khusus Orang Salat
Air dan Eko dimakamkan di sebuah pemakaman khusus di pemakaman muslim di Kaliyoso, Jetis Karangpung, Kalijambe, Sragen. Makam tersebut terletak di sebuah tanah wakafseorang pengusaha di Solo yang diperuntukkan untuk mengubur jenazah orang-orang yang rajin sholat di masa hidupnya.
Tanah tersebut wakaf dari H Soeparno Zainal Abidin, seorang pengusaha alat-alat perlengkapan ibadah yang cukup sukses di Solo. Soeparno adalah sahabat dekat Abu Bakar Ba'asyir. Salah seorang anak kandung Soeparno, Ali Usman, pernah memimpin ikatan alumni santri Ngruki.
Tanah dengan panjang sekitar 40 meter dan lebarnya 10 meter itu diwakafkan sejak tahun 1999. Di pintu masuk makam terdapat gapura tinggi tertuliskan 'Khusus. Kuburan Orang Sholat'. Di badan gapura terdapat prasasti yang ditandatangani wakif (pemberi wakaf) serta ikrar wakaf dam peruntukannya.
Di atas tanah tersebut juga di tanam pohon jati super yang ditanam rapi. Dengan demikian makam digali di sela-sela pohon jati yang masih ukuran kecil tersebut.
Baru sekitar 35 badan yang dikuburkan di tempat tersebut atau belum lebih dari sepertiga areal pemakaman itu yang terisi. Makam Air dan Eko terdapat di lokasi paling bawah.
Satu-satunya Tangga Menuju Surga
Satu-satunya Tangga Menuju Surga
Oleh : Nurani Utami/ Era-Baru
Selasa, 11 Agustus 2009

Setiap orang selalu berbicara dan bercita-cita ingin ke surga. Demikian juga setiap agama membicarakan adanya ganjaran surga bagi umatNya yang benar-benar beriman pada ajaran-ajaranNya. Namun sudahkah umat manusia memahami bagaimana agar benar-benar bisa sampai ke surga?
Surga dipercaya adalah suatu tempat yang sangat indah, tidak ada lagi kesengsaraan atau penderitaan karena semua kebutuhan penghuninya semua terpenuhi. Setiap agama diajarkan oleh pembawa ajaranNya, merupakan orang yang mempunyai kemampuan dan pemahaman yang luar biasa. Beliau benar-benar tahu tentang prinsip-prinsip alam semesta yang sesungguhnya, bukan alam yang seperti kita pahami selama ini, dengan begitu beliau tahu bagaimana jalan sesungguhnya untuk bisa sampai ke surga, Atas dasar kemampuannya melihat wujud tulen dari prinsip-prinsip jalan ke surga, maka beliau mengajarkan pemahamannNya kepada manusia dengan harapan agar manusia tidak lagi berkubang di dunia yang kotor dan penuh dengan penderitaan ini, untuk kembali ke surga tempat asal manusia yang sebenarnya.
Setiap manusia yang meyakini pada suatu agama tertentu, dengan tekun berusaha menjalani setiap perintah dan menghindari larangan sesuai dengan yang tertulis di kitab masing-masing. Berusaha mengumpulkan pahala, menghindari dosa, serta berdoa untuk memohon kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran dan lain-lain yang semuanya adalah untuk bagaimana agar bisa hidup dengan bahagia dan sejahtera di bumi ini. Dengan permohonan ingin memperoleh semua kesenangan hidup di dunia ini, jika ditelaah lebih lanjut, seandainya semua doa kita tersebut dikabulkan, bukankah berarti kita sudah seperti hidup di surga?, hidup nyaman, bahagia, sehat wal afiat dan kaya raya semua terpenuhi. Lantas buat apa bercita-cita hidup di surga, bukankah hidup kita di dunia ini sudah begitu indah?
Agama selalu mengajarkan kita untuk selalu berdoa kepada Tuhan, dan kita sudah terbiasa memohon kepadaNya untuk segala kenyamanan hidup seperti yang kita inginkan. Namun kenyataannya tetap saja penderitaan selalu menyertai manusia sepanjang hidupnya. Ketidak bahagiaan, sakit dan penderitaan yang lain selalu kita jumpai dalam hidup kita selama ini. Mungkinkan cara berdoa kita yang salah? Ataukah cara menjalani hidup ini yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh yang mengajarkan?
Setiap agama mengajarkan untuk berpikir lebih dahulu untuk orang lain sebelum kita memikirkan kepentingan diri sendiri, dengan begitu diri kita terhindar dari perbuatan dosa. Misalnya Budha Sakyamuni megajarkan ajaran untuk "Berpantang-Samadi-Kebijakan." Berpantang yaitu umatnya disuruh untuk menghambarkan nafsu keduniawian agar terhindar dari mengejar kepentingan pribadi, dengan begitu manusia tidak berbuat dosa lagi dalam usahanya mengejar nafsu pribadi tersebut. Tuhan Yesus mengatakan bahwa manusia penuh dengan dosa, dan untuk menebus dosa-dosa tersebut adalah dengan mau menderita. Jika kita ditampar pipi sebelah kiri maka kita berikan pipi yang sebelahnya lagi. Ajaran-ajaran mereka ini mengisyaratkan pada kita bahwa sebagai manusia tujuannya adalah bukan unmtuk mencari kenyamanan hidup di dunia ini, tetapi bagaimana agar kita dapat kembali ke surga. Dengan penuh kesadaran mau menjalani semua penderitaan dengan keteguhan iman, baik penderitaan fisik maupun penderitaan batin.
Penderitaan bukanlah hal yang buruk, hanya orang-orang yang masih begitu kuat mengejar keterikatan hati lah yang menganggapnya sebagai hal yang sangat buruk. Orang yang begitu kuat mengejar kekayaan, kemasyuran, ketenaran sampai –sampai tidurpun tidak nyenyak. Seluruh isi otak diperas bagaimana untuk mewujudkan harapannya, dan seluruh hati terisi oleh kekhawatiran, rasa curiga serta kebencian. Apa yang yang terlintas di kepala dan di hati semua terefleksi pada sikap kita sehari-hari. Menggunjing, memfitnah, menghasut, berbohong, menipu dan sebagainya, adalah cerminan orang yang nafsu keduniawiannya masih kuat, adalah sikap orang yang masih berpikir tentang kepentingan pribadi, kepentingan keluarga serta kepentingan kelompok.
Surga adalah tempat yang begitu indah, penuh kebahagian, dan tanpa penderitaan. Jika seandainya orang-orang yang masih belum mampu mengendalikan tujuh perasaan dan enam nafsunya ini masuk ke surga apakah diijinkan? Apakah mungkin? Apakah mungkin surga terisi oleh penghuni yang masih mempunyai tujuh perasaan dan enam nafsu tersebut ? Jika iya, bukankah itu berarti di surga masih ada persaingan, saling cemburu, saling fitnah, saling mencederai, intrik mengintrik, berzinah dan sebagainya diantara penghuni surga tersebut. Seandainya ada penghuni surga yang masih mementingkan harga diri dan kesombongan tersinggung oleh perkataan penghuni surga yang lain lalu naik pitam, bertengkar dan mendendam serta menghasut kelompoknya untuk membalas sakit hatinya kemudian timbul perang, bukankah sama menderitanya kehidiupan di surga dengan di dunia? Lalu dimana letak perbedaannya antara kehidupan di surga dan kehidupan di dunia? Lantas dimana pula letak dari indahnya sebuah surga?
Surga yang digambarkan begitu indah, tentunya hanya boleh diisi oleh manusia yang tidak lagi mengejar keterikatan hati manusia tentang keduniawian. Orang yang sudah bisa membersihkan hati dari semua nafsu manusiannya, dan yang sudah bisa membersihkan pikiran dari khayalan-khlayalan yang memabukkan hingga lupa diri, sampai-sampai lupa tujuan yang sebenarnya menjadi manusia. Di dalam ajaran setiap agama bukankah diajarkan bagaimana untuk selalu bersabar, dan ikhlas atas semua penderitaan yang menerpa kita? Bukankah Tuhan yang memberikan cobaan berupa penderitaan itu kepada kita, lalu kenapa kita malah memohon kepadaNya untuk melenyapkan? Tujuan Tuhan memberikan penderitaan kepada manusia adalah agar manusia membayar dosa-dosa yang telah kita lakukan di dalam seluruh kehidupan kita. Dan Tuhan pula yang mengajarkan bagaimana untuk menjalani penderitaan tersebut sesuai kriteriaNya, lalu setelah kita dinyatakan lulus dalam menjalani seluruh penderitaan di jalur kehidupan yang telah ditentukan olehNya, maka surga adalah tempat yang dijanjikan buat kita.
Satu-satunya cara untuk menuju ke surga adalah menyingkirkan sifat-sifat hati manusia, tujuh perasaan dan enam nafsu manusia, dengan cara menghambarkan semua itu dan tidak lagi terikat kuat padanya. Seperti kita ketahui, di semua agama mengatakan bahwa manusia yang terikat pada pengejaran duniawi akan mudah sekali diperalat oleh iblis, iblis yang selalu menghalangi manusia kembali ke surga.(erabaru.net)
Oleh : Nurani Utami/ Era-Baru
Selasa, 11 Agustus 2009
Setiap orang selalu berbicara dan bercita-cita ingin ke surga. Demikian juga setiap agama membicarakan adanya ganjaran surga bagi umatNya yang benar-benar beriman pada ajaran-ajaranNya. Namun sudahkah umat manusia memahami bagaimana agar benar-benar bisa sampai ke surga?
Surga dipercaya adalah suatu tempat yang sangat indah, tidak ada lagi kesengsaraan atau penderitaan karena semua kebutuhan penghuninya semua terpenuhi. Setiap agama diajarkan oleh pembawa ajaranNya, merupakan orang yang mempunyai kemampuan dan pemahaman yang luar biasa. Beliau benar-benar tahu tentang prinsip-prinsip alam semesta yang sesungguhnya, bukan alam yang seperti kita pahami selama ini, dengan begitu beliau tahu bagaimana jalan sesungguhnya untuk bisa sampai ke surga, Atas dasar kemampuannya melihat wujud tulen dari prinsip-prinsip jalan ke surga, maka beliau mengajarkan pemahamannNya kepada manusia dengan harapan agar manusia tidak lagi berkubang di dunia yang kotor dan penuh dengan penderitaan ini, untuk kembali ke surga tempat asal manusia yang sebenarnya.
Setiap manusia yang meyakini pada suatu agama tertentu, dengan tekun berusaha menjalani setiap perintah dan menghindari larangan sesuai dengan yang tertulis di kitab masing-masing. Berusaha mengumpulkan pahala, menghindari dosa, serta berdoa untuk memohon kesehatan, kebahagiaan, kemakmuran dan lain-lain yang semuanya adalah untuk bagaimana agar bisa hidup dengan bahagia dan sejahtera di bumi ini. Dengan permohonan ingin memperoleh semua kesenangan hidup di dunia ini, jika ditelaah lebih lanjut, seandainya semua doa kita tersebut dikabulkan, bukankah berarti kita sudah seperti hidup di surga?, hidup nyaman, bahagia, sehat wal afiat dan kaya raya semua terpenuhi. Lantas buat apa bercita-cita hidup di surga, bukankah hidup kita di dunia ini sudah begitu indah?
Agama selalu mengajarkan kita untuk selalu berdoa kepada Tuhan, dan kita sudah terbiasa memohon kepadaNya untuk segala kenyamanan hidup seperti yang kita inginkan. Namun kenyataannya tetap saja penderitaan selalu menyertai manusia sepanjang hidupnya. Ketidak bahagiaan, sakit dan penderitaan yang lain selalu kita jumpai dalam hidup kita selama ini. Mungkinkan cara berdoa kita yang salah? Ataukah cara menjalani hidup ini yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh yang mengajarkan?
Setiap agama mengajarkan untuk berpikir lebih dahulu untuk orang lain sebelum kita memikirkan kepentingan diri sendiri, dengan begitu diri kita terhindar dari perbuatan dosa. Misalnya Budha Sakyamuni megajarkan ajaran untuk "Berpantang-Samadi-Kebijakan." Berpantang yaitu umatnya disuruh untuk menghambarkan nafsu keduniawian agar terhindar dari mengejar kepentingan pribadi, dengan begitu manusia tidak berbuat dosa lagi dalam usahanya mengejar nafsu pribadi tersebut. Tuhan Yesus mengatakan bahwa manusia penuh dengan dosa, dan untuk menebus dosa-dosa tersebut adalah dengan mau menderita. Jika kita ditampar pipi sebelah kiri maka kita berikan pipi yang sebelahnya lagi. Ajaran-ajaran mereka ini mengisyaratkan pada kita bahwa sebagai manusia tujuannya adalah bukan unmtuk mencari kenyamanan hidup di dunia ini, tetapi bagaimana agar kita dapat kembali ke surga. Dengan penuh kesadaran mau menjalani semua penderitaan dengan keteguhan iman, baik penderitaan fisik maupun penderitaan batin.
Penderitaan bukanlah hal yang buruk, hanya orang-orang yang masih begitu kuat mengejar keterikatan hati lah yang menganggapnya sebagai hal yang sangat buruk. Orang yang begitu kuat mengejar kekayaan, kemasyuran, ketenaran sampai –sampai tidurpun tidak nyenyak. Seluruh isi otak diperas bagaimana untuk mewujudkan harapannya, dan seluruh hati terisi oleh kekhawatiran, rasa curiga serta kebencian. Apa yang yang terlintas di kepala dan di hati semua terefleksi pada sikap kita sehari-hari. Menggunjing, memfitnah, menghasut, berbohong, menipu dan sebagainya, adalah cerminan orang yang nafsu keduniawiannya masih kuat, adalah sikap orang yang masih berpikir tentang kepentingan pribadi, kepentingan keluarga serta kepentingan kelompok.
Surga adalah tempat yang begitu indah, penuh kebahagian, dan tanpa penderitaan. Jika seandainya orang-orang yang masih belum mampu mengendalikan tujuh perasaan dan enam nafsunya ini masuk ke surga apakah diijinkan? Apakah mungkin? Apakah mungkin surga terisi oleh penghuni yang masih mempunyai tujuh perasaan dan enam nafsu tersebut ? Jika iya, bukankah itu berarti di surga masih ada persaingan, saling cemburu, saling fitnah, saling mencederai, intrik mengintrik, berzinah dan sebagainya diantara penghuni surga tersebut. Seandainya ada penghuni surga yang masih mementingkan harga diri dan kesombongan tersinggung oleh perkataan penghuni surga yang lain lalu naik pitam, bertengkar dan mendendam serta menghasut kelompoknya untuk membalas sakit hatinya kemudian timbul perang, bukankah sama menderitanya kehidiupan di surga dengan di dunia? Lalu dimana letak perbedaannya antara kehidupan di surga dan kehidupan di dunia? Lantas dimana pula letak dari indahnya sebuah surga?
Surga yang digambarkan begitu indah, tentunya hanya boleh diisi oleh manusia yang tidak lagi mengejar keterikatan hati manusia tentang keduniawian. Orang yang sudah bisa membersihkan hati dari semua nafsu manusiannya, dan yang sudah bisa membersihkan pikiran dari khayalan-khlayalan yang memabukkan hingga lupa diri, sampai-sampai lupa tujuan yang sebenarnya menjadi manusia. Di dalam ajaran setiap agama bukankah diajarkan bagaimana untuk selalu bersabar, dan ikhlas atas semua penderitaan yang menerpa kita? Bukankah Tuhan yang memberikan cobaan berupa penderitaan itu kepada kita, lalu kenapa kita malah memohon kepadaNya untuk melenyapkan? Tujuan Tuhan memberikan penderitaan kepada manusia adalah agar manusia membayar dosa-dosa yang telah kita lakukan di dalam seluruh kehidupan kita. Dan Tuhan pula yang mengajarkan bagaimana untuk menjalani penderitaan tersebut sesuai kriteriaNya, lalu setelah kita dinyatakan lulus dalam menjalani seluruh penderitaan di jalur kehidupan yang telah ditentukan olehNya, maka surga adalah tempat yang dijanjikan buat kita.
Satu-satunya cara untuk menuju ke surga adalah menyingkirkan sifat-sifat hati manusia, tujuh perasaan dan enam nafsu manusia, dengan cara menghambarkan semua itu dan tidak lagi terikat kuat padanya. Seperti kita ketahui, di semua agama mengatakan bahwa manusia yang terikat pada pengejaran duniawi akan mudah sekali diperalat oleh iblis, iblis yang selalu menghalangi manusia kembali ke surga.(erabaru.net)
Langganan:
Postingan (Atom)

